Sabtu, 18 Februari 2017

Mengeksplore Keindahan Pulau Lombok Sehari Tak Kan Pernah Cukup

Rafif-Benar-benar mimpi yang sudah lama kami nantikan untuk bisa menginjakkan kaki di Lombok. Setelah sehari sebelumnya kami menyempatkan bermain di pantai senggigi, maka tujuan keluarga Rafif di hari ke-2 adalah mengeksplore pantai lainnya yang ada di Lombok. Malam sebelumnya kami membuat janji dengan Pak Haji Suratman, salah satu pemilik tourist information (guide tour) yang ada di pasar seni pantai Senggigi untuk diantar menyusuri Pantai Selong Belanak, Pantai Mawun, Pantai Kuta Mandalika (Lombok), Pantai Tanjung Aan, tak lupa kami juga sempat mengajukan wacana ingin mampir ke desa adat. Pak Haji (begitu kami memanggilnya) pun tidak keberatan, bahkan beliau menawarkan kami untuk mampir di tempat menenun kain khas Lombok.

Yuk, Ikut Kami Mengeksplore Keindahan Pulau Lombok


Untuk cerita lainnya saat hari pertama tiba di Lombok bisa dibaca di sini 😘 termasuk cerita kami di pantai Senggigi Lombok

Pukul 08.45 setelah kami selesai sarapan, pak Haji menjemput kami di Lobi hotel Grand Senggigi tepat waktu. Kami pun mulai perjalanan. Namun, sebelum memulai perjalanan, kami minta diantar singgah ke hotel Aston Mataram untuk melakukan check in. Kebetulan yayah Rafif keesokan harinya memiliki kesibukan urusan pekerjaan disekitar hotel Aston. Sesaat sebelum tiba di hotel Aston, kami melewati sebuah masjid islamic center yang megah berada di jalan utama kota mataram Lombok. Kami pun mendapat banyak cerita dari pak Haji, bahwa salah satu alasan dinamakan Lombok sebenarnya berasal dari kata "Lomboq" (bacanya sambil mecucu ya kira-kira spellnya loumbouk) yang berarti lurus. Menurut pak haji kemana saja kita akan menuju ketempat lain lewatnya ya jalan utama yang lurus itu tadi.
Hotel Aston Mataram
Setelah menunggu sejenak suami melakukan check in dan menitipkan beberapa barang kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan utama kami yaitu tempat pusat menenun kain khas Lombok. Sepanjang perjalanan menuju tempat pusat menenun kain, pak haji banyak menceritakan tentang sejarah dan beberapa adat istiadat di Lombok. Sehingga selama perjalanan kami tak merasa bosan. Kami sempat melewati sebuah tugu yang awalnya saya kira berbentuk masjid. Ternyata menurut pak Haji itu sebenarnya bukan bentuk masjid, tapi lebih ke bentuk rumah lumbung yang merupakan rumah adat Lombok, yang memang sekilas bentuknya menyerupai masjid.
Tugu Giri Menang Lombok

Coba bandingkan kedua bentuk gambar diatas

Penasaran dengan tugu tersebut, saya menyempatkan mencari informasi di internet yang ternyata bernama Tugu Guru Menang Lombok. Seperti halnya saya yang beranggapan bahwa tugu tersebut lebih menyerupai bentuk masjid, sebenarnya masuk akal saja karena Lombok sering dijuluki sebagai pulau seribu masjid.

Sesampainya di tempat pengrajin tenun kain khas Lombok, kami melihat kegiatan menenun kain yang dilakukan oleh 3 orang wanita. Beruntung saya mendapat kesempatan (ditawari) mencoba ikut menenun. Konon katanya, para wanita di Lombok wajib hukumnya bisa menenun. Dalam sehari mereka menghabiskan waktu setidaknya 8 jam untuk menenun. Tak hanya saya saja yang mencoba alat menenun, suami pun juga mencoba berpose menenun menggunakan alat yang berbeda. Ternyata alat tenun yang digunakan wanita dan pria berbeda.



Mencoba Alat Tenun
Yang Ini Cuma Pose Doang Ya 😎😝
Setelah puas mencoba alat tenun, kami dipersilahkan mencoba baju adat khas Lombok. Poor me, Nggak ada baju yang muat untuk saya, alasannya saya datang bersama rombongan besar, sehingga banyak baju adat yang sudah lebih dulu dipakai oleh mereka. Nggak cuma baju saja yang lebih dulu dipakai, bahkan untuk foto pun demi menghormati mereka yang sudah narsis dimana-mana, kami mengalah ketempat yang belum mereka "jamah", tapi sayangnya mereka seperti tak punya hati, masak kami mau foto di atas rumah dengan pose keren, ada salah satu dari rombongan mereka ujug-ujug pose di tangga rumah adat πŸ˜‚πŸ˜…. Ya ampun bu, sabar sebentar kami foto paling nggak sampai 5 menit kelar. Bete-bete deh... Untungnya salah satu ibu petugas yang sedari tadi mengantar kami berkeliling membantu kami menegur ibu-ibu yang ikut nampang tadi. Sehingga kami pun mendapatkan foto ala keluarga Lombok yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah 😍.


Setelah berfoto sejenak kami menyempatkan untuk mencari oleh-oleh disana. Kami baru tahu disini harganya masih harga nego. Saya mencari sarung dengan motif khas Lombok untuk suami dan oleh-oleh adik juga adik ipar. Harga yang ditawarkan awalnya Rp. 200.000,-. Kami dipersilahkan menawar. Awalnya saya kurang berani menawar, oleh si ibu guide tadi kami diberi harga Rp. 150.000,-. Ternyata ada salah satu pengunjung yang menawar Rp. 50.000,- (wuih keren), tapi oleh si guide yang mengantar pengunjung tersebut hanya diperbolehkan harga Rp. 100.000,-. Yah...saya yang awalnya nggak berani nawar, jadi ikut nodong harga Rp. 100.000,- deh. Ternyata boleh lo!

Sarung Tenun Motif Lombok
Untuk pembayarannya pun tak perlu kuatir, meskipun kita tak membawa uang cash, disana disediakan mesin EDC (mesin gesek kartu untuk debit maupun kredit).

Setelah mendapat oleh-oleh sarung motif khas lombok, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Selong Belanak. Berbeda dengan pantai-pantai di Bali, menurut saya pantai Selong Belanak ini tidak berada di pusat keramaian. Pantainya pun meski sudah banyak pengunjung tapi tak se-crowded pantai di Bali. Sehingga kami benar-benar bisa menikmati.
Berasa Honeymoon (Coba Tebak Dimana Para Krucils?)

Pasir di pantai Selong Belanak ini sangat putih dan lembut. Sebenarnya pantai ini tempat yang asyik untuk bermain air, tapi mengingat panasnya matahari terik di siang hari kami memutuskan tidak bermain air. Kebetulan saat tiba waktu sudah menunjukkan saatnya makan siang. Sehingga kami memilih menikmati makan siang di salah satu warung yang ada disana sembari menikmati indahnya pantai Selong Belanak. Sembari kami menikmati mie goreng dan jagung bakar, si kakak maupun adik asyik bermain pasir pantai.

Makan Dulu
Setelah puas menikmati keindahan pantai Selong Belanak kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Mawun. Di Pantai Mawun kami menyewa kursi pantai seharga Rp. 30.000,- (dibantu menawar oleh pak Haji dari harga awal Rp 50.000,-) dan menikmati air kelapa langsung dari buahnya seharga Rp. 10.000,-. Di pantai Mawun pun kami hanya berani sembunyi di balik payung kursi pantai, karena cuacanya yang sangat terik menyengat. Kalau bule berjemur, kita malah sembunyi cantik.

Bersantai di Kursi Pantai
Pantai Mawun
Mengingat waktu terus berjalan dan kami masih harus melaksanakan shalat dzuhur, sebenarnya kami memutuskan akan shalat di musholah. Namun, menurut info pak Haji, musholahnya penuh, karena berbarengan dengan rombongan wisatawan lainnya. Pak Haji pun menawarkan kami untuk shalat di Masjid lain saja nanti saat menuju pantai Kuta Mandalika. Kami pun setuju, dan menyempatkan mampir sejenak untuk shalat di sebuah masjid.

Setelah berhenti sejenak di masjid kami melanjutkan perjalanan ke Kuta Mandalika Lombok. Turun dari kendaraan ini kami disambut oleh seorang anak-anak kecil yang menjual pernak pernik gelang. Di pantai ini kita bisa menemukan daratan menjorok dari pantai sedikit ke laut yang banyak digunakan para pengunjung berfoto. Sebenarnya saya juga ingin ikut foto ala-ala pengunjung lain di tempat tersebut, tapi mengingat saya membawa balita, dimana dikuatirkan saya terpereset, apalagi saat itu hujan mulai turun rintik-rintik. Maka saya memutuskan cukup puas saja di pinggir pantai.

Pantai Kuta Mandalika Lombok

Dataran Menjorok Yang Banyak Digunakan Berfoto
Saya pun menyempatkan berfoto di sebuah ayunan yang ada di pantai. Tapi, jangan bayangkan saya berpose berdiri diatas ayunan ya. Bawa bayi bo'.
Photo Sambil Tahan Napas Ya πŸ˜…
Tak lama setelah berpose diatas ayunan, hujan turun, sehingga kami harus buru-buru mencari tempat berteduh. Sebentar berteduh, hujan pun reda. Namun, saat kami ingin melanjutkan menikmati keindahan pantai kuta lebih lama, hujan turun dengan derasnya. Sehingga kami memutuskan berteduh kembali di sebuah warung yang berada di pantai tersebut.

Setelah hujan reda, kami memutuskan berpindah tempat menuju pantai Tanjung Aan. Di Pantai Tanjung Aan ini dipisahkan oleh sebuah dataran yang membedakan bentuk pasirnya. Di satu sisi pasirnya kecil-kecil. Disisi lain pasirnya besar. Kakak pun meminta bermain air di pantai Tanjung Aan. Di sepanjang pantai aan ini sekilas tampak kotor, tapi setelah kami perhatikan kotoran yang kami maksud tadi sebenarnya merupakan rumput dari laut yang terbawa ombak sehingga menepi tertinggal di pantai.
Pantai Tanjung Aan
Dipantai Tanjung Aan ini juga terdapat sebuah ayunan di pinggir pantai yang ketika kami tiba sudah lumayan tertutup air laut karena mulai pasang. Puas bermain air laut kami membilas badan di kamar mandi umum dengan tarif Rp. 5.000,-/orang. Untuk buang air kecil kami cukup membayar Rp. 3.000,-.

Setelah berbilas kami melanjutkan perjalanan sesuai rencana menuju Desa Adat Sade. Sebelum tiba di Desa Adat Sade, suami menyempatkan mampir membeli celana pendek.

Beli Celana Dulu, Karena Lupa Nggak Bawa Celana πŸ˜…

Sesampainya di Desa Adat Sade, kami disambut oleh salah seorang pemuda yang menjadi tour guide kami mengelilingi Desa Adat Sade. Sebelum masuk kami diperkenankan untuk mengisi buku tamu, dan mengisi dana sukarela untuk pembangunan Desa.

Di Desa Adat Sade, saya beruntung bertemu dengan salah satu wanita yang sedang memintal benang. Saya pun diijinkan untuk mencoba memintal benang.

Ikut Mencoba Memintal Benang

Setelah itu kami juga menyempatkan membeli kaos bertuliskan Lombok, seharga Rp. 100.000,-/3 piece. Kali ini kami tidak menawar, konon karena menurut sang penjual Rp.10.000,- untuk membayar koperasi.

Rumah di desa Adat Sade ini atapnya berupa jerami. Menurut info yang kami dapat untuk pembangunannya pun selalu bergotong royong. Atap jeraminya tahan hingga kurang lebih 5 tahun.

Setelah puas berkeliling Desa Adat Sade kami berencana langsung pulang. Namun, mengingat anak-anak kelaparan sehingga kami meminta pak Haji mengantar kami mencari makan di sebuah tempat makan yang menyediakan ayam khas taliwang khas Lombok.


Lupa Nggak Foto Menu Yang Satuan 😐
 Rasa ayam taliwang ini memiliki rasa bumbu rempah-rempahnya yang terasa begitu unik.

Kenyang menikmati makan malam, kami segera kembali ke Hotel. Sebenarnya ada satu destinasi tambahan yang belum sempat kami kunjungi, yaitu pasar cakra. Menurut pak Haji, disana kita bisa berburu oleh-oleh mutiara khas Lombok. Sayangnya, karena baik kakak adik sudah lelah, dan rewel sehingga kami memutuskan lain waktu saja. Toh uang saku kami sudah menipisπŸ˜….

Sesampainya di hotel kami langsung berlomba-lomba untuk segera tidur πŸ˜‚.

Oh iya, buat yang sedang ke Lombok, dan bingung mencari tour guide, menurut saya pak haji ini rekomended sekali.

Saya mendapat rate Rp.500.000,- sudah bersih tak perlu membayar tambahan apa-apa lagi, termasuk uang parkir, dsb. Kami juga mendapat air mineral selama perjalanan. Paling istimewa kami sering dibantu menawar harga di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi, jadi bisa lumayan menghemat pengeluaran kami yang sudah ngepres habis-habisan.

Selain itu selama perjalanan, pak Haji ini juga banyak menceritakan tentang seluk beluk sejarah Lombok beserta cerita adat istiadat yang berlaku disana. Sehingga kita seperti diajak mengenang flash back tentang berdirinya kota Lombok. Hal penting lainnya, kita juga tak perlu bingung mencari tempat shalat, karena pak haji akan membantu mencarikan tempat shalat yang nyaman untuk kita yang ingin menunaikan ibadah shalat. Untuk biaya parkir mohon maaf saya tidak bisa mencantumkan, karena semua sudah ditanggung pak Haji. Namun, menurut info yang dibagi pak Haji biaya parkir yang diperlukan berkisar antara Rp. 10.000,- s/d Rp. 15.000,- per satu destinasi.

Oh iya ada satu destinasi pantai lainnya yang sebenarnya bagus untuk didatangi, tapi tentunya dengan memperhitungkan cuaca, yaitu pantai pink. Hal ini dikarenakan medan menuju pantai pink masih sangat berat. Selain itu ternyata tidak hanya ada satu pantai pink yang bisa kita kunjungi. Menurut info yang saya dapat kita bisa menuju pantai pink 2 dari pantai pink 1 melalui jalur laut. Sehingga jika ingin menuju pantai pink, pak Haji menyarankan sebaiknya menunggu prakiraan cuaca cerah saja, agar tidak membahayakan pengunjung, mengingat angin laut yang terkadang jadi kurang bersahabat jika cuaca sedang tidak cerah.

Pada saat kami berada di Lombok, banyak nelayan yang berlabuh di sejumlah pantai yang kami kunjungi, dengan alasan karena cuaca yang kurang bersahabat. Sehingga nelayan diperbolehkan menepi di pantai-pantai yang sering digunakan tempat wisata demi keamanan mereka.

Satu tambahan, mengingat diatas sudah saya sebutkan bahwa Lombok sering mendapat julukan pulau seribu masjid, maka tidak perlu khawatir untuk mencari tempat shalat dan tempat makanan halal di Lombok.
Ini Cerita Kami Hari Ke-2 di Lombok

Jadi beneran nih, nggak pengen mengeksplore keindahan pulau Lombok?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar