Senin, 13 Februari 2017

Selamat Datang di Lombok

Rafif-Setelah berkali-kali berencana liburan ke Lombok, tapi selalu gagal. Akhirnya, justru tanpa persiapan yang bertele-tele beberapa waktu lalu kami berhasil menginjakkan kaki di Lombok. Yah... Selamat datang di Lombok Keluarga Rafif.

Selamat Datang Di Bandara Internasional Lombok Indonesia
Berawal dari suami yang kebetulan ada keperluan ke kota Lombok, saya iseng-iseng coba membuka beberapa website tiket perjalanan Surabaya-Lombok. Bisa dibilang harga tiket menuju Lombok ini masih terjangkau untuk kami. Meski demikian, kami tak langsung membelinya di awal, karena kami kuatir ada perubahan rencana.

Sembari iseng-iseng mencari tiket penerbangan murah, saya pun mulai mencari penginapan dengan harga terjangkau. Hingga saya menjatuhkan pilihan menginap di hotel Grand Senggigi, dengan rate sekitar Rp. 250.000,- (belum termasuk pajak, de el el). Setelah di total semuanya kena sekitar Rp. 325.000,-. Alasan kami memilih hotel Grand Senggigi ini karena berdasarkan reviewnya, akses menuju pantainya sangat dekat dan mudah dijangkau. Selain itu, hotel Grand Senggigi ini terletak pas dipinggir jalan raya yang juga dilewati oleh bus Damri dari Bandara.

Setelah saya memutuskan mem-booking penginapan, maka ke-esokan harinya atau tepat seminggu sebelum tanggal keberangkatan suami ke Lombok, yang meskipun saat itu masih gambling 50%-50%, kami memutuskan untuk membeli tiket penerbangan menuju Lombok.

Saat itu tiket yang kami pilih penerbangan Citilink, dengan jadwal keberangkatan pukul 9 pagi, pada hari Sabtu. Kami memilih jadwal tersebut dengan asumsi nanti ketika tiba di bandara internasional Lombok sudah pukul 11 siang. Perjalanan dari bandara Lombok menuju tempat penginapan kami di sekitar pantai senggigi sekitar 1 jam. Hari sabtu pagi kami pilih agar kami memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksplore Lombok, sebelum nantinya pada hari senen suami sudah disibukkan dengan kegiatannya.

Booking hotel sudah, tiket penerbangan juga oke, kami antusias menanti jadwal keberangkatan ke Lombok. Hingga akhirnya ketika hari-H tiba, saya memutuskan bangun pukul 4 pagi. Yah, meskipun jadwal keberangkatan pukul 9 pagi, tapi setidaknya saya harus tiba di bandara pukul 7 pagi untuk melakukan check in. Maklum, saya membawa bayi jadi check ini tetap harus saya lakukan manual di counter check in yang ada dibandara keberangkatan. Berhubung saya menggunakan citilink, maka saya berangkat melalui Terminal 1 Bandara Juanda Surabaya.

Ternyata jadwal keberangkatan pesawat citilink kami mengalami delay, karena menurut info dari salah satu kru disana, pesawat citilink yang akan kami gunakan masih tertahan cuaca buruk di Bandung. Alhamdulillah, kami tak perlu menunggu terlalu lama, kurang lebih pukul 10 kami dipersilahkan boarding, dan kami mendapat snack roti sebagai ganti keterlambatan jadwal keberangkatan kami.


Kurang lebih pukul 12 siang WITA kami tiba di Bandara Internasional Lombok Praya.

Selamat Datang Di Lombok
Kami pun segera menuju counter Bus Damri, dan membeli karcis untuk perjalanan Bus Damri menuju Senggigi. Menurut info yang kami tanyakan di loket, ternyata kami nanti bisa minta ke driver bus untuk berhenti tepat didepan hotel Grand Senggigi. Kami juga tak perlu membayar karcis bus untuk kakak adik, asalkan kami mau memangku kakak dan adik. Biaya yang kami keluarkan untuk menuju Hotel Grand Senggigi ini @Rp. 35.000,-/orang. Cukup murah jika dibanding kami harus naik taksi dengan tarif sekitar Rp. 150.000,- s/d Rp. 200.000,-.

Perjalanan Bus Damri kami cukup nyaman. Kami tak perlu dipusingkan dengan koper bawaan kami, karena sudah tersedia tempat koper di tengah bus. Bahkan seorang bule wanita baik hati memberi kami tempat duduk di bangku paling belakang saat mengetahui deretan kursi yang berisi 2 kiri kanan sudah terisi sebagian. Sehingga saya dan suami bisa tetap duduk bersebelahan sembari bertugas memangku anak kami masing-masing.

Bus Damri sempat berhenti di salah satu terminal yang ada di tengah kota, untuk menurunkan penumpang. Saat para penumpang turun, beberapa kursi kosong sehingga kami memutuskan pindah tempat duduk, agar nantinya saat akan turun kami tak perlu bingung tergesa-gesa dari belakang.

Tempat Koper
Tak perlu menunggu lama, bus Damri melanjutkan perjalanan menuju pantai Senggigi. Saat tiba di seberang hotel Grand Senggigi, bus Damri berhenti dan kami diperbolehkan turun. Kami pun cukup menyeberang menuju hotel.

Hotel Grand Senggigi di Seberang Jalan
Sesampainya di hotel kami melakukan check in. Ternyata hotel Grand Senggigi ini lokasinya sedikit agak jauh dengan pusat (central) pantai Senggigi. Namun, jika pengunjung hanya sekedar ingin bermain-main dipantai (tanpa harus ke central pantai Senggigi), pengunjung bisa menuju pantai yang terletak di seberang hotel. Meski demikian, bagi kami belum puas rasanya jika belum menginjakkan kaki di pantai Senggigi. Sehingga kami memutuskan untuk menuju "Pantai Senggigi" yang sebenarnya.

Untuk menuju ke pantai Senggigi kami bisa menggunakan Taksi, atau meminjam sepeda motor milik pegawai hotel Grand Senggigi yang memang sengaja bisa dipinjamkan bagi pengunjung. Mereka juga tidak mematok harga untuk biaya persewaannya. Oke, dengan gaya ala rombongan sirkus kami pun meminjam salah satu sepeda motor pegawai hotel tersebut menuju pantai Senggigi. Oleh salah satu pegawai, kami diarahkan untuk berhenti di pasar seni. Sayangnya untuk mencari "plang" tulisan pasar seni ini kami sedikit kesulitan. Ternyata memang tulisannya sudah sedikit kabur.

Sesampainya di pasar seni, kami segera memarkirkan sepeda motor di antara deretan parkiran sepeda motor lainnya. Saat itu kebetulan tidak ada tukang parkirnya.

Tiba di Lokasi Pasar Seni, Memarkirkan Sepeda Motor
Kami pun bergegas menuju pantai. Disana ada beberapa pengunjung yang juga sudah tiba lebih dulu. Namun, tak seramai yang kami bayangkan. Hingga akhirnya saya menyadari disitu juga pantai Senggigi tapi bukan merupakan pusat keramaiannya.


Saya pun melihat dari kejauhan ada sebuah jembatan menuju tengah lauh, sehingga saya mulai penasaran, dan memutuskan berjalan menuju jembatan tersebut. Namun, sebelum berjalan kami menyempatkan makan sejenak di warung yang ada dipinggir pantai tersebut. Cukup murah menurut saya waktu itu. Setelah kenyang barulah kami melanjutkan perjalanan menuju pusat keramaian pantai Senggigi.

Disepanjang pantai Senggigi ada banyak penjual bros mutiara, gelang mutiara, kaos lombok, dsb yang menawarkan dagangannya. Harganya pun bervariasi. Mulai dari yang menawarkan bros mutiara seharga Rp. 50.000,- untuk 3 biji sampai dengan harga Rp. 10.000,-/biji.

Sepanjang perjalanan, sembari bermain air ombak, sesekali kami menepi sebentar karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Setelah hujan reda kami berjalan kembali.



Sesampainya di pusat pantai Senggigi kamipun segera mengeksplore jembatannya. Disana ada banyak remaja yang berlomba-lomba meloncat dari atas jembatan menuju laut. Hal yang seru untuk ditonton menurut saya. Bahkan ada seorang cewek yang saya perhatikan agak ragu ketika akan melompat ke laut, tapi sebelum pada akhirnya saya minta izin untuk merekamnya, tak sampai hitungan detik dia pun melompat bersama teman cowoknya.

Sesampai di ujung jembatang, si kakak ternyata antusias minta menuju jembatan apung. Saya sempat mencobanya, tapi belum semenit saya berada diatas jembatan apung tersebut, saya sudah merasa mabuk mual nggak karuan, lantaran anginnya yang lumayan membuat ombak sehingga jembatan cukup bergoyang-goyang naik turun dengan sangat kencang.


Saya nyerah segera kembali ke jembatan awal bersama adik. Sedangkak kakak dan yayah tetap melanjutkan keseruannya menikmati angin laut diatas jembatana apung.

Keren Banget Nih Nggak Pusing diatas Jembatan Apung -_-
Tak lama kemudian, terdengar pengumuman dari pengeras suara, bahwa demi keamanan maka jembatan apung akan segera ditutup, sehingga para pengunjung diharapkan kembali.

Setelah puas bermain di jembatan, kami pun memutuskan kembali ke pasar Seni, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 7 malam. Sebenarnya si kakak masih ingin bermain air, tapi karena mengingat ombak yang sudah cukup besar dan langit sudah mulai gelap kami memutuskan besok saja acara bermain airnya.


Sebelum kami kembali ke tempat parkiran kami menyempatkan bertanya-tanya tentang tourist information yang menyediakan jasa guide tour menuju tempat-tempat wisata yang ada di Lombok. Maklum tanpa persiapan sehingga saat tiba disana kami belum memiliki rencana akan menghabiskan waktu kemana.

Kami sempat menanyakan beberapa pantai yang menurut beberapa teman yang sudah pernah ke lombok patut untuk dipertimbangkan. Setelah bertanya-tanya sejenak, kami tidak langsung segera memutuskan. Kami mendapat rate Rp. 500.000,- dari rate Rp. 700.000,- yang ditawarkan untuk bisa mengeksplore pantai selong belanak, pantai mawun, tanjng aan, desa adat, dan kami juga dijanjijan jika memang waktunya cukup kami bisa mengeksplore beberapa tempat lainnya yang ada disekitar tempat-tempat tersebut. Kami nantinya juga akan diajak mampir kesebuah desa tempat menenun kain khas lombok.

Sebenarnya harga yang ditawarkan tersebut sempat kami tawar sekitar Rp. 450.000,-. Boleh sih, tapi bapaknya sedikit melas sembari bertanya, "Mbak, nambah Rp. 50.000,- nggak mau ya? Nanti soalnya mbak nggak perlu bayar-bayar lagi untuk biaya parkir dan masuknya". Ah, saya mah nggak bisa kalau urusan tawar menawar. Suka nggak tega. Hehehe... Sehingga sementara kami tidak langsung mengiyakan. Namun, sembari berpikir-pikir kami membuat janji. Nanti jika memang kami jadi menggunakan jasa beliau maka selambat-lambatnya pukul 11 malam kami akan menghubunginya.

Sebenarnya untuk biaya yang ditawarkan bermacam-macam, tergantung destinasi yang kita inginkan. Untuk menuju pulau Pink, beliau mematok harga Rp. 800.000,-. Namun, untuk cuaca saat itu beliau tidak menyarankan ke pulau pink. Alasannya warna pink yang ada di pasir merupakan pantulan cahaya dari ganggang merah yang ada dilaut. Sedangkan saat itu Lombok sering mendung dan hujan. Selain itu perjalanan dengan akses yang kurang oke juga harus menjadi pertimbangan kami. Jika mau akses melalui laut pun sebenarnya bisa, tapi saat itu angin sedang tidak bersahabat. Sehingga beliau kurang menyarankan.

Setelah puas bertanya, kami pun segera kembali ke hotel mengendarai sepeda motor, dengan menyempatkan mampir ke Alfamart untuk membeli camilan dan minuman plus mengambil sedikit isi ATM.

Cerita Hari Pertama di Lombok

Saking antusiasnya kami menuju hotel, kami tidak memperhatikan jalanan. Hingga tak lama kemudian kami menyadari jika kami sudah terlewat agak jauh dari hotel. Sembari menebak-nebak kami pun segera membuka google MAP. Benar saja, jika kami teruskan laju motor kami tadi mungkin kami akan tiba di tengah kota lombok. Lumayan jauh menurut kami untuk kembali ke hotel dengan keadaan capek setelah bermain dipantai.

Setelah tiba di hotel kami segera mengembalikan sepeda motor beserta kuncinya. Berhubung kami sudah tidak kuat untuk sekedar mencari makan, maka kami berinisiatif meminta tolong kepada pegawai hotel untuk mencarikan kami makanan.

Capek Bener Ya Dek...
Saking lelahnya kakak adik, membuat mereka satu persatu tertidur pulas sebelum makanan tiba...
Perjalanan yang melelahkan tapi cukup menyenangkan buat kami di hari pertama di kota Lombok..

2 komentar:

  1. Wah seru sekali bisa ke Lombok, destinasi impian Keluarga Biru juga neh. Terutama Mama Ivon sih he3.
    Jujur, aku agak parno kalo booking peswat atau hotel jauh2 hari, emang sih harganya lebih murah namun takut kalo menjelang hari H terjadi apa-apa. Semoga saja enggak yaa, aamiin.

    BalasHapus
  2. Wah asyik ya mbak hotelnya dekat pantai.
    Makasih infonya soal bus damri, bisa jdi alternatif pilihan kalau ke Lombok nih

    BalasHapus