Selasa, 28 November 2017

Menginap Semalam di Best Hotel Surabaya

Rafif-Ceritanya beberapa minggu ini kebetulan kami lagi menjalin hubungan LDR-an. Tahu kan ya LDR-an apa? Itu Long Distance Relationship. Nah seperti biasanya, ketika suami pulang ke Surabaya, maka akan banyak list to do yang harus dikerjakan dengan segera. Sehingga beberapa waktu lalu untuk menghemat waktu biar nggak riwa-riwi di jalan, lagi-lagi kami memutuskan menginap di hotel saja. Namun, kali ini berbeda karena kami memilih hotelnya dadakan, saat itu juga. Sehingga dengan cepat kami memilih Best Hotel Surabaya, dengan tipe kamar Superior.


Pertimbangan kami saat itu, adalah mencari lokasi hotel yang terdekat dengan tempat yang akan kami datangi keesokan paginya. Selain itu kami tertarik dengan status hotel bintang tiganya dengan harga low price menurut kami.

Oke, jadi kami fix sepakat memilih hotel yang terletak di Jalan Kedungsari (daerah Tegalsari) tersebut. Sebelum tiba di hotel suami dan saya sempat saling menebak-nebak, karena sepertinya ini hotel baru.

Benar saja tebakan kami, ini hotel yang beberapa waktu lalu sempat kami lewati, dan bikin kami kepo.

Suami saat itu sempat komen nanya, "Lho hotel apa ya ini ...???"

Tapi waktu itu saya asal komen saja jawab, "Ah, kayaknya ini bukan hotel bintang tiga deh ..."

Ternyata dugaan saya salah, karena menurut salah satu aplikasi booking hotel yang saya gunakan menunjukkan bahwa hotel tersebut adalah hotel bintang 3. Hal ini juga saya pastikan lagi dengan bagian resepsionis hotel, yang memang mengatakan iya ini hotel bintang 3.

Oh iya saat datang, karena kami membawa kendaraan sendiri, kami memutuskan memilih parkiran di bagian basement saja (bukan di halaman hotel). Ternyata pilihan kami lebih tepat, karena kami tak perlu bersusah payah menaiki tangga untuk menuju resepsionis. Iyap justru jika masuk dari area parkiran basement tersebut kita bisa menggunakan lift.


Seperti standart check ini pada umumnya, ketika kami tiba kami diminta untuk menunjukkan bukti booking hotel. Oh iya, di sini kami diminta uang jaminan seratus ribu rupiah di awal. Nanti saat check out kami bisa mengambil uang jaminan kembali dengan menunjukkan tanda terima uang jaminan tersebut. Kami pun mendapat satu kartu untuk akses ke kamar tidur.

Sebelum masuk kami sebenarnya sempat request kasur single saja (bukan yang twin). Nah, sayangnya untuk kamar dengan kasur single diinfokan hanya tinggal satu saja yang tersisa, dan kamarnya tanpa jendela. Waduh, serasa kayak di penjara dong ya nggak ada pemandangan luar, bisa pengap nanti. Jadi akhirnya oke kami memilih kamar dengan twin bed saja.

Kami pun menuju ke kamar yang sudah disediakan.


Sepanjang mata memandang malam itu, menurut kami hotelnya sedikit sepi. Sepi dalam artian nggak ada pegawai yang menawarkan untuk membantu barang bawaan kami. Hehe ... Namun, hal tersebut kami anggap karena kami datang agak malam.

Sesampainya di kamar, saya mencoba mengecek fasilitas kamar hotel yang ada. Oke setelah saya cek sebagian, ehmmm ... kalau menurut saya hotel ini sedikit berbeda dengan hotel bintang tiga yang pernah kami singgahi sebelum-sebelumnya, karena ada beberapa fasilitas yang biasanya kami temui tidak ada di sana.

Salah satunya kami tidak menemukan teko pemanas air. Padahal malam itu niatnya saya sudah mau bikin teh hijau anget sebagai penutup diet saya seharian. Hehe ... Entahlah, ini hanya tidak ada di tipe kamar saya atau di semua kamar, saya pun tidak tahu.

Hal lainnya untuk kamar mandi, tidak tersedia sabun cair. Namun, jangan kuatir karena tetap ada sabun padat bulat dua buah yang disediakan di kamar mandi secara cuma-cuma, bersama shampoo hotel dan dua buah sikat gigi beserta pasta giginya seperti pada umumnya.


Oh iya ada satu hal eye catching yang menurut saya agak beda juga dengan hotel bintang tiga lainnya, dimana gelas yang disediakan di kamar mandi bukan gelas kaca bening. Agak unik saja menurut kami. Hehe ...

Lalu seperti biasa suami saya minta periksa sarung bantalnya, ada kancingnya apa nggak. Bwakakakak maklum ya saya punya phobia kancing, dan saya trauma karena dulu waktu remaja pernah diajak orang tua menginap di salah satu hotel di lamongan yang sarung bantalnya berkancing. Ah sudahlah jangan bahas itu nanti bikin saya merinding. Hehe ...

Setelah suami memastikan aman, oke saya bisa bernafas lega... Artinya malam itu saya bisa tidur dengan leluasa di kasur. Haha ...

Oh iya kami juga mendapat dua botol air mineral kemasan 600 ml gratis yang sudah disediakan di meja kamar.

Malam itu kami tak terlalu banyak memikirkan fasilitas hotel, karena sejujurnya bahkan kami sudah terlalu lelah butuh ingin cepat tidur biar besok bisa bangun pagi. Anak-anak sendiri sudah dari tadi tidur sebelum sampai di hotel.

Saking lelahnya kami, bahkan suami memesan makanan langsung di hotel. Bersyukur karena harga makanan di Best Hotel terjangkau, dalam artian tidak semahal harga makanan di hotel berbintang lainnya.

Setelah suami menghabiskan makan malamnya di kamar, kami pun segera terlelap tidur.


Pagi harinya kami langsung buru-buru mandi dan mempersiapkan diri untuk check out. Namun sebelum check out kami menyempatkan mengajak anak-anak sarapan terlebih dahulu. Saya sendiri sejak menjalani diet ketofastosis memang sudah tidak pernah sarapan. Sehingga saya memilih hanya menemani suami dan anak-anak sarapan.

Menu sarapan nya menurut saya beraneka macam pilihannya. Sayangnya saat kami tiba nasi goreng dan wadah lauknya belum di refill. Sehingga saya cukup puas mengambilkan anak-anak saya nasi dengan sayur bobor bayam dan lauk godo tempe (tempe yang dibalut tepung). Ada sih soto ayam, tapi saya bingung masak iya bobor bayam dicampur soto ayam. Gimana rasanya? Hehe ...

Ternyata anak saya suka dengan menu sayur bobor bayam dan godo tempenya tadi. Baik kakak maupun adik sepakat minta nambah lagi porsi makannya. Hemmm kalau anak-anak saya sudah minta nambah artinya masakannya memang oke. Tak lama kemudian setelah mengambil porsi kedua baru saya lihat menu lauknya datang. Kalau nggak salah waktu itu menu lauk yang disajikan adalah kakap yang digoreng dengan tepung. Sama halnya dengan godo tempe anak-anak pun suka dengan lauknya.

Setelah selesai sarapan, kami segera menuju resepsionis dan melakukan check out.

Oh iya ada yang terlewat, ada satu sebenarnya keunikan dari Best Hotel ini, yaitu disepanjang koridor hotel terdapat foto-foto kota Surabaya tempo dulu. Jadi sebenarnya saya sedikit berpikir apa mungkin memang hotel tersebut mengkonsep hotelnya sedikit berbeda dengan hotel bintang tiga pada umumnya? Ehm entahlah saya pun kurang tahu, karena menurut saya kamarnya sebenarnya tetap merujuk pada konsep minimalis.


Menurut kami hotel dengan tipe kamar superior ini masih belum cocok jika digunakan untuk staycation keluarga. Namun mengingat rate harga yang low budget, maka hotel ini masih bisa dipertimbangkan untuk sekedar beristirahat melepas lelah setelah seharian menghabiskan waktu di luar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar